INSAN PERS
Opini

Bela Agama Yes, Bela Negara Yes

Banyak sekali fenomena yang terjadi di tahun 2018 ini, salah satunya kita temukan fenomena orang yang merasa bangga dengan apa yang dilakukannya. Tidak terkecuali dengan mereka yang sedemikian bangga dan merasa seakan telah membela Islam, hanya karena ikut demo turun ke jalan. Begitu besarnya perasaan itu, sampai-sampai mereka berani menghina, mencerca, dan melecehkan siapapun yang tidak sefaham atau tidak sejalan dengan apa yang dilakukannya. Tuduhan bahwa orang-orang yang tidak turut ambil bagian itu sebagai munafik, lemah iman, dan sejenisnya seringkali mereka lontarkan baik melalui lisan ataupun tulisan.
Melihat fenomena tersebut saya jadi teringat dengan kisah Nasruddin yang merasa telah menolong bulan. Kisah tersebut banyak kita temukan di buku-buku humor Nasruddin, atau di sumber-sumber internet lainnya. Berikut ini saya kutipkan kisah lengkapnya:
“Suatu hari di bulan puasa, Nasrudin sedang berjalan-jalan hingga tiba waktu malam. Ia melewati sebuah sumur yang membuatnya penasaran dan ingin menengok ke dalam. Di dalam sumur itu ia melihat bayangan bulan. Ia kaget sedemikian rupa hingga membuatnya khawatir secara berlebihan. Dia bergumam: “Duh, bagaimana ini, kenapa bulan bisa terperosok ke dalam sumur. Wah…kalau rembulan ini tidak saya selamatkan, maka bulan puasa tak akan pernah berakhir, apa jadinya”
Nasruddin pun berfikir keras untuk menolong bulan. Akhirnya, ia mencari sebuah tali yang besar dan kuat. Ia lemparkan tali itu ke dalam sumur. Tali itu tersangkut kuat di sebuah batu besar. Dengan sekuat tenaga Nasrudin menarik tali tersebut. Saat ujung tali hampir sampai, Nasrudin terpental dan terjatuh. Dalam keadaan jatuh terlentang ia memandang langit dan melihat bulan sudah ada di atas ketinggian. Ia pun tersenyum manis. “Hemmm,, bisa juga aku menolongmu, untung saja aku lewat, kalau tidak, apa jadinya dengan nasibmu bulan. Bisa-bisa semua orang tidak jadi berhari raya”. , gumam Nasrudin sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Dalam cerita tersebut, betapa Nasruddin sedemikian yakin bahwa dialah yang telah berhasil menolong bulan dari kejatuhan dan keterperosokannya. Padahal kita semua tahu, bulan tidak pernah jatuh, apalagi sampai terperosok ke dalam sumur. Apa yang dilihat oleh Nasruddin di dalam sumur itu sebenarnya hanya bayangan. Nasruddin tidak bisa membedakan mana bayangan dan mana yang sesungguhnya. Sudah begitu ia sangat bangga dan merasa sebagai orang yang paling berjasa. Seakan tanpanya, bulan tak akan tertolong dari keterperosokannya.
Belajar dari cerita tersebut, kita semua memang berkewajiban membela agama yang kita cintai ini. Tapi pastikan bahwa kita mengerti dengan baik, duduk persoalannya. Jangan sampai kita melangkah hanya karena provokasi atau aneka bentuk hasutan lainnya. Bertanyalah kepada Kiyai, guru-guru panutan kita. Beliau lebih mengerti hakekat yang sebenarnya. Beliau-beliau umumnya sangat arif dan lebih hati-hati dalam bersikap. Terlebih dalam mengambil tindakan. Tidak mudah terpancing, tidak mudah emosi. Beliau-beliau punya cara yang lebih baik dan lebih pas dalam menyelesaikan segala persoalan. Umumnya beliau punya prinsip, ibarat menangkap ikan. Dapatkan ikannya dan kalau bisa jangan keruhkan airnya.
Aksi yang disebut dengan aksi damai, aksi bela islam atau aksi-aksi yang lain berdampak sangat buruk untuk keutuhan Indonesia, banyak organisasi transnasional yang menunggangi aksi tersebut kemudian menjadikannya alat politik kelompok tertentu, akibatnya timbul rasa curiga dan benci antar umat beragama, perpecahan, intoleransi, dan saling tuduh yang sama sekali tidak mencerminkan hakikat islam itu sendiri dengan rahmatan lil alaminnya.
Islam adalah agama yang penuh dengan nilai-nilai humanisme. Rukun dengan penganut keyakinan lain, membela pluralisme, anti kekerasan, dan lentur dalam menyikapi berbagai persoalan hidup, baik hidup antar umat beragama maupun bernegara adalah sikap yang paling relevan saat ini. Semua sikap tersebut benar-benar harus digalakkan sebagai ‘Pereda’ rasa kawatir dan cemas akan hadirnya kelompok-kelompok radikal yang minim toleransi. Kelompok radikal layaknya tarikan nafas penghabisan senyampang belum tergeser dari percaturan politik akan terus menuntut yang tidak-tidak.
Tuntutan yang muncul atas dasar kurang paham dan tidak yakin terhadap dasar-dasar negara yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa harus ditolak, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketidak-setiaan pada dasar-dasar negara Indonesia merupakan sebuah ketololan. Hal ini jualah yang menghambat perkembangan bangsa. Padahal masih banyak persoalan yang perlu diselesaikan.
Sebagai negara yang penuh dengan keberagaman, Indonesia menjadi sebuah komunitas yang rawan terjadi konflik. Permasalah yang paling besar bukan lagi tentang hubungan antar umat beragama, melainkan masalah di dapur umat Islam sendiri. Hadirnya kelompok yang mengklaim sebagai penegak syari’ah, merasa didaulat menjadi otoritas pengatur kehidupan, menyingkirkan apapun yang mereka anggap musuh. Menyedihkan, namun yang paling getir adalah minimnya usaha mengatasi kelompok ini. Upaya menampilkan wajah Islam moderat, kreatif dan inovatif harus selalu dilakukan.
Mereka yang kreatif, inovatif, tidak terlalu memikirkan eksistensi dan publikasi, padahal kontribusi mereka sangat penting bagi pembelajaran Islam untuk khalayak umum. Perlu keuletan dan ketekunan dalam menelusuri kehidupan subtil dan etos sosial meraka. Misalnya, gerakan pesantren yang membudidayakan semangat kewirausahaan dan keterampilan bisnis di kalangan para santri.
Gerakan ini akan menjadi investasi jangka panjang bagi para santri dan generasi muda lainnya. Dengan bekal keterampilan wirausaha dan bisnis akan memberi kesempatan untuk meraih masa depan dan cita-cita mereka. Gerakan semacam itu juga akan membantu meredam arus radikalisme dan terorisme bernuansa agama. Radikalisme dan terorisme belakangan ini menjadi ancaman nyata bagi bangsa Indonesia. Gerakan ini patut rasanya kita apresiasi, karena pada faktanya, sebagian pelaku bom bunuh diri dipicu oleh kesulitan ekonomi. Begitu pula para agamawan yang berkecimpung dalam usaha pelestarian lingkungan yang dibingkai kerja sama antar umat beragama. Dua kebajikan sekaligus tersinergikan: lingkungan hidup terjaga, harmoni antar umat beragama terawat.
Sekali lagi sebagai warga agama dan warga negara di era yang serba sensitif ini kita harus mampu memilah dan memilih sekaligus berhati-hatiakan isu-isu yang sengaja dibesar-besarkan agar kita terprovokasi dan terjerumus ke dalamnya. Ketika agama dihadapkan dengan negara keduanya harus saling bersinergi untuk memajukan keduanya bukan malah membenturkan keduanya.
Semoga kita semua bisa berpegang kepada agama Allah swt ini dengan penuh kearifan. Terhindar dari kesombongan, terlebih berani melecehkan orang lain atau tokoh panutan hanya karena tidak sejalan. Padahal diantara tokoh yang dilecehkan itu, bahkan ada yang telah menghabiskan sebagian besar dari hidupnya untuk Islam. Wallahu A’lam bisshowab.

Related posts

Leave a Comment

Insan Pers