INSAN PERS
Opini

KESADARAN BERNEGARA


Hidup di dunia bukan tentang seberapa penting bisa bernapas dan mempertahankan hak diri sendiri. Apalagi membiasakan sikap tak peduli pada hal apa pun, dengan alasan setiap orang sudah dilindungi HAM. Mungkin pikiran atas kebebasan itulah yang membuat rumah-rumah di sebagian besar wilayah negara memiliki pagar pembatas, yang dalam artian tidak hanya membatasi orang lain untuk masuk, tapi juga membatasi diri untuk berkomunikasi. Jika demikian, maka benar kiranya ketika perantau berpendapat, hidup di kota tak jauh beda dengan hidup di goa-goa. 

Sebetulnya, hidup bernegara itu bukan hanya tentang kota, desa juga masuk di dalamnya. Jadi kalau Indonesia dikenal dengan keramahan dan budayanya, budaya desa dan kota seharusnya tak jauh beda. Baik hal dalam gotong royong, menengok tetangga yang kesusahan dan hal-hal lain yang bukan sekadar bisa dilihat saja. Hidup bersama dalam kerukunan, seperti yang ditulis Jimly Asshiddiqie, dapat menentukan tegaknya konstitusi dan konstitusionalisme. Masyarakat hidup demi cita-cita bersama. Masih dengan hal yang dipikirkan Jimly, bahwa agar cita-cita bersama itu dapat terjamin, diperlukan perumusan tentang tujuan serta cita-cita bersama yang biasa juga disebut sebagai falsafah kenegaraan, yang nantinya berfungsi sebagai penyatu dalam konteks hidup bernegara.[1]

Di Indonesia, yang menjadi dasar filosofis hidup bernegara adalah Pancasila. Jika suatu masyarakat menerapkan nilai-nilai dalam kelima pancasila tersebut, maka dapat dipastikan ketentraman dan pemahaman hidup yang lebih baik. Dengan demikian pula, masyarakat tersebut sudah mewujudkan empat tujuan bernegara, seperti yang ditulis Jimly, antara lain: melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, menigkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasar kemerdekaan, perdamaian yang abadi, dan keadilan sosial.[2] Keempat tujuan tersebut sering dibacakan saat upacara bendera di sekolah-sekolah, pastilah tak perlu dijelaskan lagi maksud mendalamnya. 

Kemudian yang menjadi aneh adalah ketika kebanyakan orang mengatakan, “Saya pancasila, saya Indonesia”. Kata-kata yang demikian akan bernilai ketika keempat tujuan bernegara diindahkan. Akan sangat tidak elegan ketika yang berkata-kata menggebu seakan pancasilais, namun tetap membuang sampah sembarangan, menerobos lampu tanda berhenti di jalanan, serta tak mempedulikan orang sekitar. Tak mempedulikan orang di sekitar itu seperti, sibuk bermain handphone di waktunya hidup bersosial. Itu hanya contoh kecil. 

Karena manusia memiliki keterkaitan satu dengan yang lain, memahami tentang batasan hak orang lain juga perlu diperhatikan. Mana yang milik publik, dan mana yang milik pribadi? Sesuai dengan yang telah diatur dalam UUD 1945 tentang Hak Asasi Manusia, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang, dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.”[3] Demi ketentuan demokratis, apabila tindakan yang membuat orang banyak merasa dirugikan, sudah masuk dalam sanksi pelanggaran terhadap hak asasi orang lain. 

Contoh sederhana yang dapat mencerminkan kesadaran hidup bernegara bisa dilihat di jalanan, seperti orang yang menahan diri untuk memainkan klakson motor barunya. Namun beda lagi ketika seseorang dengan santainya membunyikan klakson berkali-kali, yang padahal tidak ada suatu hal yang penting, itu adalah bagian dari ketidaksadaran bernegara. Karena orang yang demikian tidak mau tahu tentang telinga orang lain. Buang bunyi sembarangan.[] 


[1] Jimly Asshiddiqie, Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), h. 21. 
[2] Ibid., h. 22. 
[3] UUD 1945, Tentang Hak Asasi Manusia, ayat (5) yang berasal dari Pasal 28C Ayat (1) Perubahan Kedua.

Related posts

Leave a Comment

Insan Pers