INSAN PERS
Sejarah Pers

PERS INDONESIA DAN REZIM KOLONIAL

Mayoritas orang asing berkecimpung dalam berbagai kegiatan ekonomi, memberi warna kota-kota besar pesisir di pulau Jawa, misalnya Batavia, Semarang dan Surabaya. Kota-kota pesisir di pulau-pulau luar Jawa, misalnya Padang, Medan dan Makassar, juga merupakan kota dagang utama yang menarik orang asing. Pada 1973, populasi warga asing di Jawa terdiri dari 27.448 Eropa, 153.186 Tionghoa, 5.608 Arab dan 16.456 orang nonpribumi lainnya. Daya tarik industri gula yang menguntungkan dan pembukaan koloni untuk perusahaan swasta juga banyak menggoda orang Belanda yang berstatus sosial bagus datang ke Hindia Belanda untuk mencari peruntungan.[1]
Untuk mengetahui perkembangan pers pada paruh kedua abad ke-19, penting menyimak asing, khususnya Eropa dan Tionghoa. Kedua komunitas inilah yang menjadi pembaca surat kabar pada hari-hari pers di Hindia Belanda. Pelanggan surat kabar berbahasa Belanda adalah para pejabat, pedagang dan warga sipil Eropa. Tetapi untuk orang Tionghoa pedagang dan pemukiman di perkotaan, surat kabar perlu untuk mempromosikan kepentingan bisnis dan perniagaan mereka sehingga, ketika surat kabar berbahsa anak negeri mulai muncul, merekalah yang mendukung sirkulasinya dengan menjadi pelanggan, bersama para priyai bergaji, alias pegawai pribumi pada sekitar pertengahan abad ke-19, jumlah orang Tionghoa sudah cukup lumayan dibeberapa kota penting di Jawa, yakni di Batavia, Semarang dan Surabaya. Di luar Jawa kota-kota seperti Medan , Padang , Makassar dan Banjarmasin juga berpenduduk Tionghoa cukup banyak. Orang Tionghoa ini menjebatani populasi pribumi dengan orang Eropa lewat usaha dagang dan komersial, diantarannya menjadi pengelola rumah candu, pegadaian dan rumah judi.
Ada dua kategori orang Tionghoa, sebagian bear orang Tionghoa di Jawa pada abad ke-19 adalah peranakan yaitu mereka yang nenek moyangnya Tionghoa dan pribumi.[2]Budaya peranakan, yang aslinya berkembang di Batavia dan Jawa, lambat laut mengembangkan bahasa sendiri, campuran antara dialek Hokkien dan Melayu Betawi.[3]Menjelang pertengahan abad ke-19, mayoritas orang Tionghoa adalah peranakan. Baru pada 1860-an orang Tionghoa didatangkan langsung dari negerinya untuk keperluan tenaga kerja bagi perkebunan dan pertambangan di luar Jawa.[4]
      Kelompok peranakan lain yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan surat kabar berbahasa anak negeri pada paruh kedua abad ke-19 adalah komunitas Indo atau Indo-Eropa. Seperti peranakan Tionghoa , komunitas Indo ini lahir dari perkawinan campuran atau pengendakan dengan pertemuan pribumi. Meskipun secara resmi dikategorikan sebagai Eropa, orang Indo ini tetap mewarisi dua budaya, Eropa dan Pribumi. Dari total 1800 orang Eropa di Jawa pada 1854, sekitar 9.000 sesungguhnya adalah Indo. Seperti sudah diterangkan di atas dalam hierarki masyarakat kolonial, orang Indo secara teoritis menikmati status setara dengan Eropa. Kendati demikian dalam kenyataanya status orang Indo terutama ditentukan oleh posisi ekonomi dan latar belakang pendidikannya.[5]Orang Indonesia, mereka umumnya yang berbahasa Belanda atau Melayu rendah disebut sinyo atau disingkat nyo. Secara kultural, mereka menyerap unsur-unsur dari budaya Eropa dan Indonesia. Pada abad ke- 19 peringkat status mencerminkan menguatnya peran ras dan kriteria pembedaan. Sementara orang Eropa berada dipuncak hierarki status dalam masyarakat kolonial dan orang Timur asing ( meliputi Tionghoa, Arab ,India dan orang asing lainnya).
Pada sekitar 1850 keadaan ekonomi penduduk pribumi di Jawa menyedihkan. Meskipun cultuurstelsel(sistem tanam paksa) tampaknya menguntungkan elite masyarakat Jawa, bagian terbesar populasi pribumi tidak memperoleh banyak dari sistem itu.[6]Kesulitan petani pribumi Jawa sudah kentara sejak menjelang 1840-an. Pengetatan tanam paksa , yang bertujuan memacu produksi kopi, gula dan nila berakibat pada pengabaian produksi beras. Secara tak meningkat tajam, sementara itu wabah penyakit ternak terjangkit secara sporadis dan cuaca yang tidak bersahabat membuat panen gagal serius, yang ,mengakibatkan kekurangan pangan yang gawat, sehingga menimbulkan kelaparan dan epidemi sepanjang 1843 hingga 1849.[7] Penderitaan orang pribumi Jawa membuka mata banyak orang akan kegagalan besar sistem pemerintahan.
Salah seorang yang mencela perlakuan kejam penduduk pribumi di bawah Tanam Paksa adala W.R. Baron van Hoevell, editor Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie. Baron van Hoevell sendiri sudah bosan akan sewenang-wenangan pemerintah yang mengontrol opini publik dan memberangus pers. Upayanya menyingkap kegagalan Tanam Paksa melalui Tijdschrift sering dirintangi oleh apa yang dianggapnya sebagai campur tangan pemerintah yang terang-terangan dan berkelanjut dengan perundungan terhadap penerbitan berkala itu oleh Sekretariat Negara, yang berkuasa atas hidup matinya penerbitan. Tentangan terhadap tanam Paksa juga mulai muncul di Belanda, dibangkitkan oleh kalangan liberal di Majelis Tinggi. Menjelang akhir 1840-an, perhatian terhadap manajemen negeri-negeri kolonial memang kian meningkat di Parlemen Belanda. Keinginan membuka mata para anggota Majelis Rendah akan berbagai kejadian di Hindia serta merta membawa kesadaran mengenai perlunya mengubah undang-undang yang dirancang pada 1848.[8]


[1] Ahmat B. Adam.2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (1855-1913).PT.Pustaka Pelajar: Yogyakarta. hlm.18.
[2] Broek, J.O.M. 1942. Economic Development of the Netherlands Indies. New York: Institue of Pacific Relations.hlm.25.
[3] Milone, Pauline Dublin. 1966. Queen City of the East:The Metamorphosis of a Colonial Capital. Berkeley. [Desertasi, University of California].hlm.199.
[4] Ahmat B. Adam. Ahmat B. Adam.2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (1855-1913).PT.Pustaka Pelajar: Yogyakarta. hlm.19.
[5] Milone, Pauline Dublin.1966. Queen City of the East:The Metamorphosis of a Colonial Capital. Berkeley. [Desertasi, University of California].hlm.149.
[6] Ricklefs, M.C. 1981. A History of Modern Indonesia. London:MacMillan.hlm.117.
[7] Mansvelt, W.M.F. dan P. Creutzberg. 1978. Changing Economy in Indonesia: A Selection of Statistical Source Material from the Early 19th Century up to 1940. Jil. Ke-4:Rice Price.s’Gravenhage:Nijhoff.hlm.25
[8] Ahmat B. Adam.2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (1855-            1913).PT.Pustaka Pelajar: Yogyakarta. hlm.22.

Related posts

Leave a Comment

Insan Pers