INSAN PERS
Daerah

BURUKNYA KEAMANAN RUMAH SAKIT MOH. ANWAR SUMENEP


Oleh A’yat Khalili*

Saya tak habis pikir keamanan Rumah Sakit sebesar RS Al-Anwar Sumenep, sangat buruk. Sebagai pusat pelayanan kesehatan yang andilnya cukup besar di wilayah ujung timur Pulau Madura ini, ternyata dalam urusan keamanan lingkungannya masih sangat cupet, rendah dan problematik.
Cupet dan rendah, salah satunya karena diberbagai sudut gedung RS ini tidak terdapat alat perekam dan pengintai, CCTV. Problematik, sebab respon pihak RS dan semua operatornya mengenai berbagai pencurian, baik dalam ruang rawat dan halaman RS, tidak pernah ditindak lanjuti dengan baik dan berbuah inspeksi yang ketat.
Pelaporan dan kasus yang silih berganti hanya menjadi angin lalu, sekadar cerita dari mulut ke mulut, lalu lenyap seiring suasana. Bagai hilang tak bercari, lulus tak berselami –menurut pepatah.
Hari ini tanggal, 11 Januari 2019, saya kehilangan HP Oppo F5 di ruang 11-5 Gedung Paviliun/GRIU RSUD, sekitar pukul, 01:00-03.00 dini hari. HP itu raib dicuri di dalam kamar tempat kakek saya dirawat sehabis saya dan keluarga tertidur lelap, dan hanya beberapa menit hingga 1-2 jam saja dari penggantian infus oleh perawat.
Setelah menyadari hp dicuri, saya cek di luar ruang ternyata tidak ada CCTV, sehingga harapan untuk mengetahui si pencuri menjadi nyata mustahil. Lalu saya bilang ke bagian ruang perawat/operator medis, justru hanya disuguhi cerita serupa, bahwa telah terjadi pencurian juga di ruang 12 Gedung Paviliun pada jam yang hampir bersamaan.
Saya bertanya kenapa tidak ada CCTV untuk sekadar menjaga sekitar ruang gedung ini, ternyata alat perekam tersebut hanya diletakkan di kantor-kantor saja.
Bisa kita bayangkan, akan seperti apa kondisi sebuah gedung pelayanan masyarakat jika dari pengawasannya saja rusak dan tidak baik. Alat semacam CCTV yang berfungsi sebagai pelengkap keamanan saja tidak digunakan.
Setiap waktu, manusia dengan niat berbeda-beda datang dan pergi ke tempat ini. Tidak hanya mereka yang ingin menjenguk keluarga atau kerabatnya yang sakit, tetapi juga yang mengincar barang-barang berharga untuk dicuri.
Dari desas-desus yang saya dengar, tanggal 12 Desember 2018 sekitar pukul 19.15 WIB, juga telah raib sebuah mobil Daihatsu Zebra Espass bernopol M 1469 VD warna Silver milik kelurga pasien, begitu juga sebuah motor Vario yang hampir saja lenyap di area parkir kemarin malam, 09/01.
Itu adalah kasus pencurian dengan target berharga. Dan mungkin masih banyak pencurian barang-barang kecil sejenis hp, dompet, uang dan lain-lain yang hanya berhenti pada sikap pasrah pemiliknya karena merasa sudah tidak mungkin mengejar si pelaku atau mendapat respon berarti dari pihak RS Al-Anwar.
Memang semua barang hilang sebagian karena kelalaiannya pemiliknya –termasuk saya yang meninggalkan hp dalam pelukan menjelang tidur. Tetapi, karena saya tidak tidur di rumah sendiri, otomatis area dan ruang yang saya tempati butuh dipertanyakan baik buruk keamanan dan pelayanannya.
Saya dan keluarga memilih gedung GRIU RSUD karena dianggap lebih nyaman limitasi ruangnya daripada gedung sebelah yang serba panas hawanya. Selain, itu lebih tertutup dan terkendali, karena per ruang hanya bisa diisi 1 pasien ketimbang gedung sebelah yang ruangnya sampai ditempati 2-4 pasien dan orang lebih bebas keluar masuk.
Tentu saja, biayanya lebih mahal. Tetapi, arti sebuah kenyamanan adalah harga mati bagi publik. Kenyamanan pelayanan, pengawasan, kontrol dan keamanan tetap yang paling utama. Sehingga, dengan menempati ruang 11-5 GRIU ini sejak 08 Januari, saya benar-benar berharap menemukan kondisi lebih adem daripada ruang sebelah barat pada 2 hari sebelumnya.
Selain itu, saya mengira gedung ini jauh lebih terkontrol sebelum akhirnya juga kena bobol. Saya pikir hanya orang yang sudah biasa berkeliaran di RS Al-Anwar ini yang berani keluar masuk ruang yang pintunya ditutup. Artinya, mereka memang sudah menjadi bagian orang yang hidup di dan dari kerja RS ini. Kemungkinan mereka sudah menjadikan pencurian di RS ini sebagai lahan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.
Melihat lingkungan RS Al-Anwar serba minim pengamanan dan preservasi, mereka ibarat kucing menemukan tikus sebagai mangsa pokok. Dan pihak RS seolah-olah secara inkompeten membiarkan keadaan seperti itu atau secara sengaja memberi peluang (yang tidak disadari) bagi mereka untuk beraksi mencuri terus-menerus hingga sekarang.
Hanya kesadaran integral dan komprehensif yang dimiliki lembaga pelayanan publik yang mau bertanggungjawab atas semua ruang lingkup operasionalnya. Selebihnya, gedung pelayanan tersebut hanya menjadi ladang bercocok tanam bagi pencurian.
Menurut Paul B. Horton dan C. Hunt, masyarakat punya jiwa, begitupun lembaga –karena di dalamnya terkumpul individu-individu yang membentuk sistem kesepakatan. Sehingga, dari cara kerja mereka akhirnya kita bisa memahami sikap, perilaku dan pelaksanaannya seperti apa. Buruk dan tidaknya sebuah lembaga adalah karakteristik orang-orang di dalamnya. Semoga.***
A’yat Khalili, seorang penulis.

Related posts

Leave a Comment

Insan Pers