INSAN PERS
Opini

Mengkomunikasikan Ide Secara Efektif

Oleh: Heri Kuswara*
Mempunyai Konsep  yang brilian dan Ide cemerlang  mutlak diperlukan dalam  mempertahankan eksistensi organisasi (perusahaan) dari berbagai persaingan yang super kompetitif. 
Ide kreatif yang kita punya  akan sangat bermanfaat  bagi  keberlanjutan institusi dimana kita mengabdi manakala  disuguhkan dengan sistematis dan konseptual.
Oleh karenanya komunikasi yang baik, persuasif dan kondusif adalah merupakan media yang sangat tepat dalam kita menyampaikan saran, pendapat dan gagasan terbaik.
Komunikasi  dapat dilakukan  pada media formal seperti  pada agenda rapat, musyawarah,   presentasi dan lain-lain atau bisa pula dilakukan secara informal,  ngobrol-ngobrol diwaktu senggang atau pada saat jam istirahat dll. 
Dalam  forum resmi, menyampaikan  ide pada atasan,  pimpinan atau barangkali bawahan   dituntut untuk mengkomunikasikannya  seefektif mungkin, jangan sampai kita merasa ‘nervous’ hingga untuk mengungkapkan sesuatu  malah kehilangan kepercayaan diri bahkan pembicaraan jadi berputar-putar tidak terfokus pada ide dan gagasan kreatif  yang tersirat dalam benak kita. 
Bukan kapasitas penulis untuk menggurui namun berdasarkan pengalaman dan sedikit artikel yang penulis baca,   Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam mengkomunikasikan ide kreatif kita, yaitu:
Catat inti dari ide yang akan disampaikan
Kadangkala  konsep/ide  yang ada dalam benak kita kurang sesuai dengan kenyataan yang kita sampaikan, hal ini terjadi karena kesiapan  mental yang kurang  atau tidak terbiasanya bicara didepan publik/forum resmi. Untuk meminimalisir  bahkan menghilangkan kesalahan tersebut  ada baiknya  kita tuliskan inti materi yang akan disampaikan agar apa yang kita komunikasikan tidak keluar dari konteks bahasan yang dituangkan.
Ungkapkan seefektif  dan seefisien mungkin
Diperlukan “sekapur sirih” atau muqoddimah dari ide  yang akan disampaikan supaya pimpinan/mitra/rekan kerja kita memahami akan alasan mendasar dari dituangkannya ide tersebut, namun demikian jangan bertele-tele dan tidak berbelit-belit sehingga membuat jenuh lawan bicara dan semakin jauh dari konteks materi yang sebenarnya. 
Uraikan isi pembicaraan dengan kalimat seefektif  dan seefisien mungkin.  Hindari mengungkapkan informasi detail yang kurang relevan, seperti, “Tadi sebelum menuju tempat ini saya bertemu family saya di suatu tempat….”. Biasanya lawan bicara tidak akan peduli dengan informasi yang tidak berhubungan dengan topik pembicaraan. 
Pastikan bukan ide Basi
Tidak sedikit dari kita mempunyai segudang  ide dan konsep yang bagus demi peningkatan kinerja organisasi (perusahaan),  oleh karena itu perlu kita menginventarisir berbagai ide dari pimpinan/rekan kita yang sudah dan pernah diungkapkan. Kitapun harus meneliti bahwa ide yang akan disampaikan benar-benar merupakan ide baru dan layak untuk dipertimbangkan.
Meskipun cara menyampaikannya berbeda sesuai selera, character dan budaya organisasi dimana kita mengabdi., Kadangkala  ide yang kita punya sama saja dengan ide-ide yang pernah disampaikan orang lain   sehingga pimpinan/rekan kita kurang tertarik mendengarkannya. Pastikan bahwa ide yang kita suguhkan benar-benar ide baru yang brilian dan gemilang.

Diplomasi  yang  terstruktur 
Gaya bahasa dan  Tutur kata kadang menjadi kendala dalam mengkomunikasikan sebuah ide,  logat/gaya bahasa yang kurang tepat   dan  kalimat yang tidak terstruktur akan membuat sulit dimengerti  oleh lawan bicara. Atur tempo dan irama bicara sehingga apa yang kita sampaikan tepat sasaran dan mudah dimengerti, jangan ragu-ragu dalam berbicara sampaikan dengan nada penuh percaya diri (optimis) agar dapat mempengaruhi dan meyakinkan pimpininan/rekan kerja kita.

Hindari Humor Yang tidak Perlu
Melontarkan humor memang sah-sah saja untuk menyegarkan suasana sebagai ice breaking, namun, kita harus tanggap membaca suasana setelah anda mengungkapkan humor. Apakah lawan bicara kita benar-benar terpancing tertawa atau tertawa dengan terpaksa. Atau bahkan menunjukkan wajah yang terganggu dengan humor kita.
Jika lawan bicara tidak tertarik dengan humor kita, teruskan pembicaraan kembali. Jangan memaksa orang untuk mentertawakan humor kita yang telah gagal. 
Kadangkala kita juga suka bergumam dalam merangkai kata-kata pembicaraan, boleh-boleh saja dilakukan sebagai jeda untuk mengingat ide-ide yang ada pada memori alam sadar kita dan sebagai intermezo ketika mental kita tertekan/nervous disaat berbicara, namun jangan terlalu sering karena hal demikian malah akan mengganggu materi yang kita sampaikan dan lawan bicara kita akan merasa lelah menunggu kapan pembicaraan kita selesai. 
Penulis  yakin masih banyak hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam mengkomunikasikan ide kreatif ini seperti misalnya harus tegas, tidak pelan-pelan, berwibawa, serius  dan banyak lagi. apa yang penulis bahas merupakan sekelumit pengalaman dan dari sedikit artikel yang diketahui. 
Namun minimal tulisan ini dapat membantu kita untuk  bermokunikasi secara lebih efektif sekaligus melatih diri menjadi pribadi yang efektif. Ingat keefektifan diperlukan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.
*Penulis adalah Motivator Karir dan Entrepreneur, Dosen Tetap Universitas BSI Jakarta, Pengurus (PERGUNU, LPTNU, ISNU) Jabar,  Ketua Gema Asgar Jakarta, Wakil Ketua APMI Pusat, Mahasiswa S3 Uninus Bandung.

Related posts

Leave a Comment

Insan Pers