INSAN PERS
Opini

Islam Tanpa Lebel


Judul yang dinyatakan penulis mungkin terlalu naif, mengapa..? karena mencari Islam yang tanpa menggunakan lebel adalah bagaikan menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Artinya sangatlah sulit mencari Islam tanpa adanya lebel di belakangnya. Sebagaimana contoh sekarang banyak sekali istilah muncul untuk menggambarkan keislaman seseorang atau keislaman suatu masyarakat yang dikemukakan oleh para sarjana, Cliffort gertz dalam bukunya Islam Jawa menyatakan bahwa Islam di Jawa terlebelkan dengan tiga hal, pertama Islam Abangan, kedua Islam Santri, dan ketiga adalah Islam Priyayi. 
Selain Cliffort Gertz masih banyak juga sarjana yang menggungkapkan Islam dengan berbagai lebelnya, misalnya Andrew Betty, Erni Budiwanti dan Hefner menyebut Islam di Jawa dengan Islam Sinkretik, Nur Syam dengan Islam akomodatif, Muhaimin AG dengan Islam lokal, Abdul Munir Mulhan dengan Islam lokalitas, Mark R. Woodward sebagai Islam Nominal. Maka semakin banyak para sarjana yang melakukan penelitian maka penyematan Islam dengan berbagai lebelnya akan terus berlanjut.
Mencari Islam tanpa lebel adalah hal yang sangat sulit dilakukan, karena dengan penulis menyebut Islam tanpa lebel saja sebenarnya penulis telah terjebak dengan lebel itu sendiri. Artinya penulis telah memberi lebel baru pada Islam, yaitu Islam tanpa lebel. 
Pelebelan Islam dengan berbagai istilah akan terus bermunculan karena Islam sendiri memang agama yang bisa menyesuaiakan dengan berbagai kondisi “sholih likulli zaman wal makan” artinya islam akan bisa menyesuaikan dengan kondisi social dan budaya suatu masyarakat dan menyebabkan lebel baru akan selalu tersemat sesuai keadaan social budayanya. Sebagaimana contoh Ulil Abshor Abdalla adalah seorang muslim, namun demikian beliau mempunyai pemikiran yang luas maka beliau sering dilebeli dengan Islam Liberal. Orang-orang pesantren yang mempertahankan tradisinya dilebeli dengan Islam Tradisional, Orang-orang yang menggemakan pembaharahuan dilebeli dengan Islam Modern.
Penulis mencoba membuat ukuran agar Islam terbebas dari berbagai lebelnya dengan membuat ukuran Islam tanpa Lebel itu orang yang telah menjalankan lima rukun Islam dan enam rukun Iman. Maka orang tersebut sudah bisa dikatakan Islam saja tanpa lebel. Akan tetapi tenyata, hal ini [6 rukun Iman dan 5 rukun Islam] adalah standar yang digunakan oleh Ahlussunah Waljamaah, maka orang yang telah menjalankan hal tersebut dikatakan Islam Aswaja, tentunya ini untuk membedakan Islam Syiah Atau Islam Mu’tazilah.
Ternyata ukuran demikian belum bisa membuat Islam terbebas dari lebelnya. Maka penulis mencoba kerucutkankan ukuran tersebut menjadi ukuran keimanan saja. Artinya dikatakan Islam tanpa lebel adalah Muslim yang percaya pada kalimat tauhid [percaya kepada Allah dan Nabi Muhammad], maka muslim tersebut dikatakan Islam tanpa lebel, akan tetapi apabila muslim yang telah menyatakan iman kepada Allah dan Rasulnya sudah pasti akan terikat dengan tempat dan keadaan social budayanya, maka pada akhirnya orang tersebut akan mendapatkan lebel juga, semisal karena orang tersebut tinggal di Kalimantan maka akan diberi Islam Kalimantan ataupun Islam local.
Dengan tidak bisa terhindarinya penyebutan Islam Murni atau Islam tanpa lebel ini maka hal yang harus dilakukan adalah menghormati semuanya, tanpa mencaci dan memaki. Dan jangan pernah mengkafirkan satu sama lainnya, selama orang tersebut masih beriman kepada Allah dan rasulnya. 
Berpedoman kepada Hadist nabi yang menyatakan orang yang berijtihad, dan apabila ijtihadnya benar maka akan mendapatkan dua pahala, dan apabila salah maka akan mendapatkan satu pahala. Tentu ijtihad yang dilakukan itu dengan penuh kesungguhan. Maka lebel apapun yang disematkan tidak boleh ada merasa dan mengklaim bahwa Islam dengan lebelnyalah yang paling benar dan yang selainnya adalah Islam yang salah. Atapun menyerang Islam seseorang karena lebelnya terkesan menyalahi aturan.

Related posts

Leave a Comment

Insan Pers