INSAN PERS
Opini

Mengapa Harus Perempuan?


Dalam suatu diskusi dengan rekan kerja di kantor, saya memberi masukan kepada rekan kerja tentang sebutan untuk kaum ‘hawa’ dengan istilah “PEREMPUAN”.

Terdapat suatu determinasi antara penggunaan istilah “wanita” dan “perempuan” yang notabene sering tak disadari oleh pemiliknya. Bagi saya, istilah “wanita” itu berkonotasi negatif sedangkan “perempuan” itu berkonotasi positif.

Lebih jelasnya, mari kita jabarkan secara bersama sama dengan lebih komprehensif dan sedikit lebih complicated melalui uraian yang jelas dan valid serta didukung fakta-fakta yang real dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tak dapat saya pungkiri, masih banyak di masyarakat yang sering menyebut perempuan dengan kata wanita, mungkin bagi sebagian orang kedua kata tersebut memiliki arti yang sama. Bahkan, mayoritas dikatakan oleh kaum lelaki ketika ditanya, “menyukai perempuan atau wanita?”. Jawabannya adalah “wanita”. Mungkin salah satu penyebabnya adalah wanita adalah makhluk yang memiliki emional (perasaan) tinggi ketimbang laki-laki. Sebab itulah terkadang logika kurang berperan meskipun mereka sudah berada di level pendidikan tertentu.

Lalu terkait dengan perempuan dan wanita, secara spelling perempuan dan wanita sudah sangat jelas berbeda. Dalam etimologi jawa, wanita berasal dari frasa Wani Ditoto artinya berani diatur. Dimaknai cenderung tunduk dan patuh pada lelaki sesuai budaya jawa.

Menurut Bahasa sansekerta, perempuan muncul dari kata per + empu + an. Per artinya makhluk dan empu berarti mulia dan mahir. Jadi perempuan dimaknai sebagai makhluk yang memiliki kemuliaan dan kemampuan.

Mungkin sebab ini pula yang melatarbelakangi adanya istilah Komnas Perempuan bukan Komnas Wanita. Begitupula dengan istilah Kementerian Pemberdayaan Perempuan bukan Kementerian Pemberdayaan Wanita. Sampai di sini sudah jelas letak distingsi perbedaan istilah “perempuan” dan “wanita”

Secara etimologis, perempuan dapat dikatakan seseorang yang memiliki penuh tubuhnya dan menjadi tua atas dirinya sendiri. Sedangkan wanita lebih memasrahkan dirinya pada kaum lelaki.

Maka, pemaknaan perempuan tidak hanya terkait dengan keistrian dan rumah tangga seperti di dapur, di kasur dan di sumur atau penunggu rumah saja yang pada umumnya stigma ini kerap terjadi penolakan.

Memang benar kodrat perempuan melahirkan dan menyusui tak terbantahkan, namun ketika perempuan harus di dalam rumah saja seperti ada pengekebirian hak. Sebagai seorang istri harusnya perempuan boleh saja keluar rumah atas izin suaminya. Filosofi keluar rumah disini maksudnya perempuan dapat bekerja, berkarya dan berinovasi di luar kodrat mereka seperti melahirkan dan menyusui.

Perempuan dapat mengerjakan sesuatu yang positif yang menguntungkan secara social dan finansial. Jadi tidak ada alasan bagi perempuan untuk hanya diam di rumah dan tidak produktif.

Alih-alih di era dunia kekinian, tidak lagi ada yang menghalangi perempuan untuk berusaha dan berhasil dalam banyak bidang. Dengan tetap menjalankan tugas pokoknya, perempuan bisa turut andil menjadi penopang dalam perekonomian keluarga.

Selamat Hari Kartini! Selamat kepada Pencetak Masa Depan!


Jakarta, 21 April 2019
Nur Amala
Ketua KOPRI PKC PMII DKI Jakarta

Related posts

Leave a Comment

Insan Pers