INSAN PERS
Nasional

Mahfud MD Ajak Mahasiswa ITB Warisi Sikap Kebangsaan

Insanpers.com. Bandung – Aula Barat Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang terletak di Jalan Ganesa 10 Bandung, Jaww Barat, disesaki oleh warga civitas akademika ITB yang antusias mengikuti kuliah umum pagi ini, Rabu (24/04/2019).

Ternyata ada Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2013 dan Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Mahfud hadir di ITB atas undangan Rektor ITB Prof. Kadarsah Suryadi untuk mengisi kuliah kebangsaan berkode KU 4078 yang diberi tajuk “Wawasan Kebangsaan, Merawat Nasionalisme, Menangkal Radikalisme”.

Selain pimpinan ITB, hadir juga ratusan mahasiswa, dekan fakultas, guru besar, serta dosen-dosen ITB lainnya.

Di awal kuliah umumnya, Mahfud mengungkapkan, keluarga besar ITB patut berbangga karena memiliki dua alumni yang ikut merumuskan konsep jati diri bangsa dan kemerdekaan negara Indonesia dengan geopolitiknya serta berhasil membangun demokrasi. Keduanya yakni Presiden Republik Indonesia yakni Ir. Soekarno alias Bung Karno dan Prof. BJ Habibie.

Mahfud menyatakan, Bung Karno yang awalnya pernah mempunyai gagasan agar Indonesia menjadi negara sekuler seperti Turki yang dibangun oleh Kemal Attaturk, setelah berdiskusi panjang dengan tokoh-tokoh Islam dan tokoh-tokoh bangsa yang lain, menemukan formula yang pas untuk menyatukan Indonesia yang sangat majemuk. Formula tersebut yakni negara yang berketuhanan.

“Negara Indonesia kemudian dibangun bukan sebagai negara agama dan bukan negara sekuler, melainkan negara berketuhanan yang kemudian disebut sebagai negara Pancasila,” ujar Mahfud MD.

Dia pun bercerita betapa besarnya peran dan pengorbanan Bung Karno untuk membangun Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan bangsa yang bermartabat. Karena kecintaannya kepada bangsa dan negara, Bung Karno juga rela melepas jabatannya sebagai Presiden tanpa membuat keributan, bahkan sampai menjalani tahanan rumah.

Mahfud juga memuji alumnus ITB lainnya yang juga patut dibanggakan, BJ Habibie, yang menggantikan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Sebenarnya, kata Mahfud, secara konstitusional, saat itu Habibie punya hak untuk menjadi Presiden sampai tahun 2003. Namun, demi melaksanakan reformasi dan membangun demokrasi, Habibie mempercepat pemilu agar rakyat Indonesia memilih Presiden dan anggota DPR/MPR yang baru melalui pemilu tahun 1999.

“Dari masa jabatan yang tersisa 58 bulan sebagai Presiden, dalam praktiknya Habibie hanya mengambil jabatan itu selama 17 bulan”, tambah Mahfud.

Hebatnya, lanjut Mahfud, dalam masa tugasnya yang tak sampai dua tahun tersebut, Habibie meninggalkan legacy yang sangat besar. Yakni membangun demokrasi, memberi perlindungan terhadap HAM, membebaskan tahanan politik, membuka keran kebebasan pers, serta memberi kebebasan berserikat dan berpendapat.

“Itulah dua alumnus ITB yang sangat berjasa dan harus menginspirasi warga ITB dalam memajukan bangsa dan negara. Para mahasiswa ITB harus mewarisi semangat kebangsaan dan kenegarawanan Bung Karno dan Habibie,” harap Mahfud.

Related posts

Leave a Comment

Insan Pers