15 Oktober 2019
INSAN PERS
Image default

AWAL PERKEMBANGAN PERS DI INDONESIA

Percetakan di Indonesia[1]bermula pada kedatangan Belanda di kepulauan itu. Peryumbuhan dan perkembangannya berjalan sejajar dengan ekspansi bertahap kolonialisme Belanda.[2]Sejarahnya dimulai keteika Verenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie (VOC) menyadari manfaat pers untuk mencetak aturan hukum yang termuat dalam maklumat resmi pemerintah. Pengenalan percetakan itu juga diprakasai oleh para misionaris Gereja Protestan Belanda yang menggunakannya untuk menerbitkan literatur Kristen dalam bahasa daerah untuk keperluan penginjilan.
       Para minoritas Gereja itu jugalah mula-mula berusaha memperkenalkan percetaka Hindia-Belanda dengan membeli sebuah mesin cetak dari Belanda pada 1624. Namun, karena tak ada tenaga terampil yang menjalankannya, mesin cetak itu pun menganggur belaka. Guna memenuhi kebutuhan tenaga pencetak untuk menertibkan pencetak untuk menertibkan kitab keagamaan dan traktat-traktat, pengurus Gereja mengusulkan kepada pemerintah pusat di Batavia untuk mencari dab menugaskan seorang tenaga operator terampil dari Belanda. Tetapi upaya memperkenalkan percetakan tidaklah terwujud hingga 1659 sampai seseorang bernama Kornelis Pijl memprakasai percetakan dengan memproduksi sebuah Tijkboek, yakni sejenis almanak, atau “buku waktu”.[3]
      Setelah itu tidak ada percetakan hingga 1667, yaitu ketika pemerintah pusat berinisiatif mendirikan sebuah percetakan dan memesan alat cetak yang lebih baik termasuk matriks yang menyediakan berbagai jenis huruf. Produk pertama percetakan ini adalah Perjanjian Bingaya, yaitu perjanjian perdamaian yang ditandatangani Laksamana Cornelis Speelman dan Sultan Hasanuddin di Makassar pada 15 Maret 1668.[4]Dokumen ini dicetak oleh Hendrick Brant yang pada Agustus 1668 mendapat kontrak mencetak dan menjilid buku atas nama VOC.[5]Menurut kontak itu, Brant mendapat upah 86 dollar, yang dibayarkan secara mencicil, tapi percetakan tetaplah kepunyaan kompeni. Brant diberi hak sebagai pencetak tunggal untuk Batavia dan VOC selama tiga tahun. Tak lama kemudian, ia menjalin kerja sama dengan Jan Bruyning. Percetakan itu terletak di Prinsestraat, Batavia.
      Setelah kontrak dengan Brant berakhir pada 16 Februari 1671, VOC menandatangani kontrak baru dengan Pieter Overwater dan tiga pegawai kompeni lainnya. Percetakan ini ( kontraknya berlaku hingga 1695) dinamakan Boeckdrucker der Edele Compagnie (pencetak buku Kompeni).[6]Kemudian , nama-nama lain muncul sebagai pencetak resmi VOC. Tapi, tokoh yang paling penting adalah seorang mantan pendeta, Andreas Lambertus Loderus, yang pada 1699 mengambil alih percetakan itu untuk didayagunakan secara maksimal. Banyak karya penting dalam bahasa Belanda, Melayu dan Latin lahir dari percetakannya, termasuk sebuah kamus Latin –Belanda-Melayu yang disusun oleh Loderus sendiri.
      Walaupun para pencetak di batavia tersebut diatas telah diberi kontrak bekerja untuk VOC, pemerintahan pusat tetap merasa perlu mendirikan percetakan sendiri di benteng ( kasteel, kastil) Batavia untuk mencetak dokumen-dokumen resmi. Percetakan ini baru terwujud pada 1718 setelah personel dan peralatannya tiba dari Belanda. Dengan berdirinya percetakan pemerintahan ini, pencetak di Batavia tadi hanya diperbolekan mencetak pesanan swasta, sedangkan semua cetakan resmi diserahkan kepada percetakan pemerintah.
      Keberadaan dua percetakan pada tahun-tahun pertama abad ke-18 itu menandakan bahwa percetakan akan berperan penting di Hindia Belanda dan akan secara tetap digunakan untuk “menghemat tenaga penulis pengganda”[7].Namun sementara percetakan cukup aktif mencetak dokumen dan buku-buku Kompeni untuk para pegawainya, tidak terlihat upaya menertibkan surat kabar sampai sekitar 120 tahun setelah sebuah percetakan berdiri di Batavia.
      Sebelum surat kabar pertama muncul, sebuah laporan berkala para saudagar dalam tulisan tangan, Memorie der Nouvelles, telah beredar. Laporan berkala ini sebetulnya merupakan kompilasi berita dan saripati surat-surat, semuanya menggunakan tulisan tangan. Dalam bentuk lembaran, laporan ini diedarkan dikalangan pegawai VOC yang bertugas jauh dipelosok, yang sangat haus akan berita. Penyebaran berita seperti ini konon sudah ditempuh oleh Jan Pieterazoon Coen pada 1615.[8]Baru pada 1744, dibawah pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, surat kabar tercetak pertama lahir dari Benteng. Nomor contoh surat kabar itu Bataviase Nouvelles, muncul pada 8 Agustus 1744. Bataviase Nouvelleshanya terdiri dari selembar kertas berukuran folio yang kedua halamannya masing- masing berisi dua kolom. Pembaca diberi tahu bahwa mereka bisa mendapatkannya setiap senin dari Jan Abel, perusahaan penjilidan milik Kompeni di Benteng.[9]
      Selain membuat maklumat pemerintahan, surat kabar itu juga menyisipkan iklan yang biasanya berisi pengumuman lelang. Surat kabar itu akhirnya diberi petunjuk untuk menghentikan penerbitannya pada 20 Juni 1746, setelah baru menikmati dua tahun keberadaannya, meskipun penerbitnya, Jordens, telah mendapat jaminan izin terbit selama tiga tahun. Surat kabar pertama yang pertama yang bersentuhan dengan orang Indonesia adalah Vendu Nieuws, yang terbit pada 1776, tiga dasawarsa setelah Batviase Nouvelles. Diterbitkan oleh L. Dominicus, pencetak di Batavia, Vendu Nieuws sebetulnya merupakan media iklan minggua, terutama mengenai berita lelang. Dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “Soerat lelang”, koran ini juga memuat ,maklumat penjualan sejumlah perkebunan besar dan beberapa iklan perdagangan.
      Vendu Nieuws merupakan surat kabar kedua dan terakhir yang terbit selamat masa VOC. Vendu Nieuws menghentikan penerbitannya pada 1809 semasa pemerintahan Jenderal Herman Willem Daendels yang menjabar Gubernur membeli percetakan sejak 1808 hingga 1811. Daendles membeli percetakan Kota dan menggabungkannya dengan percetakan Benteng menjadi Landsrdrukkerij ( Percetakan Negara) yang masih terus bekerja sampai pemerintahan kolonial berakhir. Percetakan resmi pemerintah itu merangsang Daendels menertibkan media resmi pemerintah untuk mempublikasikan kegunaan reformasi pemerintahannya di Jawa. Pada 15 Januari 1810 terbit edisi pertama mingguan Bataviasche Koloniale Courant di Batavia. Diterbitkan dalam format kuarto lebar, koran ini diasuh sejak 1788.[10]
      Selama masa pemerintahan Inggris, Batavia menyaksikan terbitnya koran resmi yang lain. Pada 29 Februari 1812, pemerintahan yang baru menerbitkan Java Government Gazette, sebuah mingguan yang sebagian besar berbahasa Inggris, dicetak oleh A.H. Hubbard. Isinya menceritakan perseteruan antara Belanda dan Inggris. Namun, surat kabar ibi pun memuat berita-berita dari Eropa dan berbagai artikel tentang kehidupan dan adat istiadat anak negeri.[11]Tetapi, surat kabar ini pun berhenti terbit sewaktu Belanda kembali berkuasa pada 1816, namun segera digantikan oleh Bataviasche Courant yang terbit pada 20 Agustus 1816. Dua belas tahun kemudian , surat kabar ini berganti nama menjadi Javasche Courant.[12]
      Koran-koran resmi pemerintah tampaknya hanya berhasil mendapatkan beberapa pelanggan (mengikat peredarannya). Dan baru pada 1831 muncul surat kabar partikelir yang pertama. Lahirnya surat kabar yang terlambat ini mungkin akibat sedikitnya orang di Hindia Belanda yang bisa membaca. Lagi pula, kecuali percetakan milik pemerintah dan misionaris, sangat sedikit percetakan yang diupayakan pihak swasta. Salah satu kendalanya adalah kesulitan mendapatkan alat untuk membuat huruf timah. Tetapi, lebih penting dari itu adalah ketiadaan tenaga ( kompositor) terampil. Karena percetakan misionaris menjadi satu-satunya percetakan non pemerintah yang bergiat dalam cetak-mencetak selama abad ke- 18.


[1] Muller Kruger, Th.1969. Indonesia dan orang-orang Indonesia, dalam:S. Ichimura dan Koentjaraningrat (ed.), Indonesia: Masalah dan Peristiwa; Bunga Rampai. hlm. 1-25.
[2] Ricklefs, M.C.1974. Jogjakarta under Sultan Mangkubumi 1749-1792, A History of the Division of Java. London: Oxford University Press.hlm 14.
[3] Graaf, H.. J de. 1969. ‘Indonesia’, dalam: Colin Clair, The Spread of Printing: Eastern Hemisphere. Amsterdam: Bangent, hlm. 12.
[4] Chijs, J.A. van der.1880.’ Proeve eener Nederlandsch Indische Biblographie (1659-1870); Verhandelingen van het Bataviaasch Genootscap van Kunsten en Wetenschappen. Jil. Ke-39, 1 Batavia.hlm.2.
[5] Isa, Zubaidah.1972. Printing and Publishing in Indonesia: 1602-1970. Indiana. ( Desertasi, Indiana University).hlm.13.
[6] Isa, Zubaidah. 1972. Printing and Publishing in Indonesia: 1602-1970. Indiana. ( Desertasi, Indiana University).hlm 16.
[7]Graaf,  H. J de 1969.‘Indonesia’, dalam: Colin Clair, The Spread of Printing: Eastern Hemisphere.             Amsterdam: Bangent.hlm. 13.
[8] Wormser, C.W. (s.a.)a.  Drie en dertigjaren op Java. Jil. III: In het dagbladwezen. Amsterdam: W.ten Have. Hlm.6.
[9] Faber, G.H. von.1930. A Short History of Jurnalism in the Ducth East Indies. Sourabaya: Kolff.hlm.15.
[10] Faber, G.H. von.1930. A Short History of Jurnalism in the Ducth East Indies. Sourabaya: Kolff. hlm. 18.
[11] Faber, G.H. von..1930. A Short History of Jurnalism in the Ducth East Indies. Sourabaya: Kolff. hlm.29.
[12] Graaf, H.J. de.1969. ‘Indonesia’, dalam: Colin Clair, The Spread of Printing: Eastern Hemisphere.             Amsterdam: Bangent.  hlm.29.

Related posts