21 Oktober 2019
INSAN PERS
Image default

Cerah Lagi: GUSDURian Bangkalan Sowan Kiai dan Ulama Bangkalan


Insanpers.com. Bangkalan– Dalam kesempatan ini, GUSDURIAN BANGKALAN sowan ke salah satu sesepuh Bangkalan yaitu yai Makki selaku ketua PC NU Bangkalan menjabat. Pada kesempatan yaang mulia itu kami berbincang banyak hal mengenai Gusdurian khususnya. Kami yang sejak lalu kebingungan dimana poros Gusdurian seharusnya? Pertanyaan itu akhirnya terjawab sudah bahwa gusdurian bergerak di ranah kebangsaan.

Berangkat dari problema yabg terjadi beberapa lalu, koordinator Gusdurian Bangkalan sering kali dikritik pedas oleh simpatisan gusdurian, bagi kritikan bukan masalah namun tulisan ini mungkin dapat menjembatani dari pada kontoversi yang terjadi, sering kali gusdurian dikata libral dan saudara-saudaranya. Salah satu contohnya saat gusdurian bangkalan mengucapkan selamat tahun barus, natal, valentein dan sekawannya dari hari peringatan yang kata mereka peringatan “kapir”.

Yai Makki memberi titik terang konflik tersebut bahwa kita harus memetakkan dan menjadikan fimokus dimana lahan garap gusdurian sebenarnya. Stigma jelek mengenai libral itu dantang lantaran si kritikus memandang ucapan selamat itu dlm kacamata ubudiyah, ritual rohaniyah. Padahal sejatinya gusdurian tidak bergerak dalam ranah itu. Pasrahkan masalah sholat, wudlu’, tahlil dan maulid itu pada ulama, yai, bindereh dan lora saja. Gusdurian sejatinya pergerakannya lebih mengarah pada pergerakan kebangsaan yang menjunjung tinggi nilai luhur dan sakti mandraguna Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Kata yai Makki.

Nah, saat mereka paham hal di atas, lanjutnya, mereka akan mengerti dan paham dmn sebenarnya duduk gusdurian ini. Dan bukan berarti kita menafikan keulama’an gus dur atau kata orang madura ke”khelafannya”. Akan tetapi peetakan dan fikus semacam itu perlu agar supaya tidak menstigma negatif publik. Dan ini menjadi tugas kita untuk memahamkan mereka-mereka itu.

“mon oreng kokop, jek berrik burger, pasteh sala kabbi, masakan apah reyah mak matta kabbi bala bala bala… (orang kokop [maksudnya org deso] jgn dikasih burger, pasti salah semua, ini masakan apa kok mentah semua…)” kelakarnya. Artinya, saat kita menyampaikan sesuatu maka bahasa kita harus disesuaikan dg mitra bicara. Jangan menggunakan bahasa akademik pada para petani, mereka tidak akan paham.
Pertemuan itu menjadi pembuka pertenuan2 selanjutnya dengan beliau. Semoga beliau sehat selalu. Amin.

Related posts