25 Agustus 2019
INSAN PERS
Image default

Gus Mamak Annuqayah: Kita Rawat dan Jaga Bersama Indonesia

Insanpers.com,Sumenep — Akhir-akhir ini, panggung-panggung yang biasa disebut dengan “pengajian” di Pulau Madura, mulai dimasuki warna yang sama sekali berbeda. Bahkan, seringkali ditemukan materi-materi pengajian yang disampaikan dengan retorika agitatif penuh hasutan, cacian dan kebencian.
Demikian disampaikan oleh salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah KH.Mohammad Shalahuddin A.Warits atau biasa dipanggil Gus Mamak, dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Konsorsium Kader Gus Dur Sumenep, jaringan pesantren tradisional, dan Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Indonesia (OIAAI) Cabang Madura Al-Ahram, di salah satu hotel di Sumenep, Madura, Jawa Timur, Kamis, (8/10/2018).
Sebagai Ketua OIAAI Cabang Madura Al-Ahram, Gus Mamak mengatakan,  banyaknya pengajian tetapi tidak berisi pengajian yang menyejukkan. Tetapi semacam hasutan kepada gerakan-gerakan ideologis tertentu.
”Makanya kita berkumpul di sini, dan kita percahaya hanya Islam yang rahmah yang bisa menjadi solusi, dengan melihat bahwa Indonesia merupakan satu kesepakatan, kalau kita sudah sepakat dengan Indonesia, mari kita jaga bersama. Itu baru rahmah akan turun,” terang Gus Mamak.
Dijelaskan Gus Mamak, kehadiran tokoh moderat dengan reputasi sekaliber Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi di dalam satu forum bersama kalangan strategis sangat penting. Harapannya, kedepan mampu mewujudkan gerakan kontra naratif guna kembali merekatkan tatanan sosial di tengah-tengah masyarakat yang rawan retak.
”Di dalam tradisinya, pengajian rakyat mengambil momentum hari-hari besar Islam maupun nasional. Biasanya, diisi oleh jaringan kiai maupun da`i pesantren tradisional dengan materi-materi hikmah untuk memberikan siraman rohani kepada masyarakat umum,” ujar Gus Mamak ketika ditanyakan tujuan kegiatan “Bincang Kebangsaan bersama Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi” dengan tema “Membumikan Islam Rahmah” tersebut.
Menurut Gus Mamak, akhir-akhir ini, pengajian bisa muncul kapan saja. Da`inya berasal dari kalangan “ulama panggung perkotaan” yang dikenal masyarakat bukan dari jaringan pesantren setempat, melainkan karena sedang trending di berbagai media sosial dan internet.
”Yang paling menggelisahkan adalah materi yang kerap diangkat tidak lagi berisi hikmah-hikmah yang menyejukkan ataupun solusi ril berbagai permasalahan ummat, melainkan lebih kepada tema-tema ideologi dan gerakan yang jauh dari keseharian mereka,” imbuhnya.
Lebih-lebih lagi, lanjutnya, materi-materi ini seringkali ditemukan dan disampaikan dengan retorika agitatif penuh hasutan, cacian dan kebencian. Para ulama panggung ini bukannya menguatkan kesatuan di tubuh ummat. Justru sebaliknya, menimbulkan perpecahan dalam berbagai bentuk dan skalanya.
”Dengan hadirnya tokoh moderat Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi di dalam satu forum bersama kalangan strategis bersama tokoh-tokoh muda Madura diharapkan mampu mewujudkan gerakan kontra naratif guna kembali merekatkan tatanan sosial di tengah-tengah masyarakat yang rawan retak,” pungkasnya. (sumber: karta.co.id)

Related posts