15 Oktober 2019
INSAN PERS
Image default

Kemelut PMII dan Masa lalunya

Masa lalu yang panjang bagi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII). Telah 59 tahun berlalu sejak pertama kali organisasi gerakan kemahasiswaan bernama PMII dideklarasikan, 17 April 1960, oleh 13 angkatan muda Nahdlatul Ulama di Surabaya. Pada masanya, PMII adalah organ sayap kemahasiswaan tempat dimana intelektual cum aktivis mahasiswa NU mengasah gagasan dan bertarung ide. PMII lahir ditengah sengkarut politik yang pelik antara blok pro soekarno dan blok elite angkatan darat.

Irisan kedua blok ini kemudian berdampak pada gerbong pecahan lain di belakangnya. Yakni, mengiris kelompok tradisionalis versus modernis, mengiris sosialis Komunis versus sosial demokratik, mengiris organ mahasiswa nasionalis sekuler versus organ mahasiswa berbasis keagamaan. Sejatinya, polemik di antara kelompok-kelompok di atas telah ada jauh sebelum Soekarno menabalkan demokrasi terpimpin serta membaiat dirinya sebagai presiden seumur hidup, hanya saja kebijakan politik Nasakom dan sederet jargon ala bung besar itu semakin memperjelas oposisi biner di antara kelompok tersebut.

Pembagian koalisinya secara sederhana yakni PNI, PKI, NU melawan Angkatan Darat, masyumi, PSI. Patut dicatat bahwa masuknya NU kedalam koalisi pemerintahan demokrasi terpimpin kala itu memicu polemik yang keras di internal NU sendiri. Utamanya, antara Mbah Wahab Chasbullah yang sangat akrab dengan Bung Karno serta nyaris selalu sepakat dengan langkah politik Bung Besar dan Mbah Bisri Syansuri yang notabene ingin lebih merangkul kelompok Masyumi dan blok Islam kontra demokrasi terpimpin. Bergabungnya NU didalam lingkaran istana kala itu melahirkan anak-anak muda Nahdliyin oposan tangguh macam subchan ZE.

Subchan merupakan oposan NU muda garis depan yang memiliki koneksi pada lingkaran elite angkatan darat kontra Bung Karno. Pada waktunya ia akan menjadi sosok kunci berakhirnya rezim soekarno dengan menjadi orang di balik layar berdirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan rentetan aksi KAMI sepanjang 1965-1967. Termasuk menjadikan sahabat Zamroni (salah satu pengurus PB PMII periode Mahbub dan terpilih sebagai ketua umum PB setelahnya) sebagai presidium pusat KAMI.

Agus Sunyoto menyatakan bahwa kelahiran PMII tidak bisa dilepaskan dari konteks ruang-waktu politik golongan kala itu. Dimana momentumnya belum terlalu jauh dari peristiwa PRRI/Permesta yakni suatu gerakan upaya kup terhadap pemerintah republik yang dalam versi Bung Karno turut melibatkan elite Masyumi serta elite PSI didalam gerakannya. Bung karno memukul balik gerakan ini dengan aksi pembubaran Masyumi-PSI sekaligus.

Bung Karno memang mendapat dukungan yang cukup besar dari angkatan muda nasionalis yang diwakili GMNI dan angkatan muda soskom yang diwakili CGMI. Tapi tentu ia memiliki oposan yang tidak bisa dipandang sebelah mata dari angkatan muda Islam anak kandung Masyumi yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bagi bung karno HMI adalah basis kelompok mahasiswa Islam yg kontrarevolusioner. Oleh karena itu, ia butuh back up kekuatan dari blok angkatan muda islam yang sesuai dengan platform politiknya.

Ia kemudian sowan pada Mbah Wahab Chasbullah dan Pak Idham Cholid untuk membicarakan kemungkinan dibentuknya satu organ kemahasiswaan keislaman yang Islamnya Indonesia. Ruang kosong tersebut kemudian diisi oleh PMII. Organ kemahasiswaan keislaman yang Islamnya Indonesia serta progresif revolusioner sesuai dengan cita-cita Bung Besar (kepingan sejarah ini bisa didapatkan melalui rekaman pidato bung karno pada kongres pertama PMII. Dimana di dalam pidato tersebut, Bung Karno beberapa kali berteriak ganyang HMI).

Waktu terus beranjak dari tahun 1960, dimana PMII lahir, menuju tahun 1965. Tahun dimana polemik politik tingkat tinggi menuju titik kulminasi. Tepat tanggal 30 September, gunung api konflik itu meletus ditandai dengan terbunuhnya tujuh jendral angkatan darat. Peristiwa tersebut menjadi trigger huru-hara massal. Baik di jakarta maupun di daerah lain.

Selanjutnya episode yg berjalan adalah episode-episode catatan gelap republik. Sayup-sayup gerakan ketidakpercayaan akan kepemimpinan Bung Karno pun bergeliat di lingkaran mahasiswa. Mereka menganggap panglima tertinggi revolusi Indonesia ini plintat-plintut didalam mengambil sikap pasca peristiwa G30S. Padahal dalam versi mereka telah nyata-nyata dalang di balik upaya kup ini adalah PKI.Baca juga :  Memulihkan Debit Sumber Brantas

Banyak pertanyaan yang acapkali dilemparkan pada saya. Di mana Mahbub Junaidimemposisikan dirinya kala itu? Bukankah Mahbub adalah satu dari sedikit mahasiswa kepercayaan Bung Karno?

Saya tak bisa menjawabnya. Karena jelas mahbub mengalami dilema yang luar biasa didalam mengambil sikap dalam momentum terdesak macam itu. Tetapi, Chalid Mawardi pernah menyampaikan dalam satu kesempatan bahwa Mahbub bukanlah orang yang bisa disetir oleh subchan. Berarti ada kemungkinan Zamroni menduduki kepemimpinan presidium pusat KAMI tanpa rekomendasi Mahbub, melainkan menggunakan tangan dingin subchan.

Muhammad Al fayyadl di dalam catatan detik-detik menjelang dan pasca peristiwa 30 September juga menuliskan secara gamblang bagaimana Subchan dapat melakukan manuver tingkat tinggi baik ke dalam lingkaran angkatan darat maupun ke dalam elite NU. Subchan telah mengadakan pelatihan-pelatihan bersenjata bahkan sebelum malam 30 September. Artinya, subchan telah memprediksi datangnya titik kulminasi tersebut. Fayyadl juga mencatat bahwa diantara anak-anak muda yg dilibatkan dalam latihan singkat paramiliter itu antara lain kader-kader HMI dan PMII.

Subchan pula yang menjadi aktor kunci ditandatanganinya resolusi jihad ganyang Gestapu oleh tokoh-tokoh sepuh NU. Dan di dalam surat resolusi tersebut juga disebutkan bahwa PMII mendukung adanya pengganyangan gestapu. Ganyang Gestapu kemudian disambut dengan amuk massal penghabisan kekuatan anasir komunis sampai ke akar-akarnya. Tentu ini kemudian sama dengan habisnya basis kekuatan pro Soekarno dan penanda senjakala kepemimpinannya.

Ironis akhirnya. Peran PMII yang diharapkan menjadi back up kekuatan prorevolusi Soekarno justru berputar haluan 180 derajat menjadi lokomotif pendobrak kekuasannya. Orde Baru lahir dan PMII-NU dengan orkestrasi Subchan menjadi bagian yang memiliki sumbangsih atas tumbuhnya Rezim militer ini. Ada banyak harapan yang dicitakan oleh subchan dan lingkarannya atas munculnya kepemimpinan baru ini. mungkin diantaranya perbaikan situasi ekonomi-politik yang lebih kondusif daripada kepemimpinan Bung Karno yang lebih mengedepankan slogan-slogan serta makian tak substansial di dalam membangun perekonomian Indonesia yang lebih baik.

Namun apa daya, gayung itu tak bersambut. Yang terjadi kemudian adalah, dipukulnya basis kekuatan kelompok NU sampai ke akar-akarnya oleh kekuatan militer di bawah komando soeharto. Karena dianggap NU adalah satu-satunya lawan potensial yang tersisa untuk menghalangi rencana jangka panjang kekuasaan rezim totaliter ini. Konon sebenarnya pemenang pemilu 1971 adalah partai NU. Tetapi, melalui kerja intelijen dan kerja tentara di desa-desa kantong suara nahdliyin dihabisi dan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga NU hanya mendapat sekian suara dan nangkring di bawah Golkar.

Kemudian, sejak kemelut tersebut masuklah ijtihad politik NU di bawah komando Mbah Bisri Syansuri. Satu periode, dimana Fealy menyebutnya dengan, periode tradisionalisme radikal, NU vis A vis Negara. Banyak kebijakan reezim yg ditentang secara diametral oleh NU. Termasuk di antaranya rancangan undang-undang perkawinan dan tekanan Golkar menjelang pemilu 1977. Dimana PPP dilarang menggunakan simbol Ka’bah sebagai logo partainya serta sederet manuver Soeharto lainnya. Kesemuanya ditentang secara tegap tanpa tedeng aling-aling oleh gerbong NU di bawah komando Mbah Bisri Syansuri.

Situasi tradisionalisme radikal inilah, walaupun fluktuatif tingkat resistensinya, menunjukkan NU juga PMII konsisten menempuh jalan keterasingan ini selama 32 tahun rezim Orde Baru. Situasi yang berkebalikan dengan kolega sesama organ mahasiswa lainnya, yakni HMI yg nyata-nyata menjadi anak emas rezim. Tengok saja angkatan pertama generasi HMI pasca peralihan dari soekarno ke soeharto.

Sebut saja Nurcholis Madjid, Syafii Ma’arif atau Amien Rais. Melalui klik-Klik tertentu mereka bisa berangkat ke Chicago untuk belajar studi Islam. Dan kemudian menjadi intelektual garda depan di dalam berbicara pembaharuan pemikiran Islam. Sementara, generasi pertama kita macam Mahbub Junaidi serta sahabat-sahabat lainnya terus menempuh jalan pedang hingga akhir hayat.

Selamat hari lahir PMII. Kau adalah rahim bagi kelahiran kali kedua kami.

Oleh Adil SatriaKetua PC PMII Jember

Related posts