21 Oktober 2019
INSAN PERS
Image default

Khilafah dalam Pusaran Ijtima Ulama IV

Insanpers.com Jakarta  Peneliti Politik LIPI Wasisto Raharjo Jati menilai kekalahan Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tidak membuat goyah sejumlah tokoh agama Ijtima Ulama IV untuk menjual ideologi khilafah. 

Menurutnya, ideologi transnasional itu sangat jelas berbenturan dengan Pancasila dan falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Karena kemarin jualan Prabowo itu kalah, makanya khilafah kini jadi jualan mereka (Ijtima Ulama IV),” kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima Tagar, Selasa, 6 Agustus 2019.

Indonesia bisa terpecah belah hanya karna wacana khilafah ini.

Wasis, sapaanya, menganggap sejumlah tokoh agama yang hadir dalam forum tersebut seakan lupa terhadap sejarah, bahwasannya ideologi Pancasila sudah mengakomodasi semua kepentingan anak bangsa.

“Termasuk soal agama,” ucapnya. 

Pria berusia 29 tahun ini mengaku tidak habis pikir, karena kelompok tersebut cenderung egosentris tidak memikirkan kemajemukan bangsa. 

Indonesia bisa terpecah belah hanya karna wacana khilafah ini,” kata Wasis.

Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia. Namun, Wasis berpandangan, terselenggaranya Ijtima Ulama jilid IV tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap mayoritas umat Islam di Indonesia.

“Karena ijtihad itu melawan NKRI, jelas (ideologi khilafah) itu sangat bersebrangan (dengan Pancasila),” ujarnya. 

Namun hal terburuknya, bisa memunculkan gesekan dengan organisasi keagamaan lain yang ada di Indonesia. Karena pada satu sisi ada yang merasa paling benar.

“Klaim ulama ahlussunah itu problematik. Itu bisa konflik dengan Nadhlatul Ulama (NU),” kata pria kelahiran Yogyakarta itu.

Seperti diketahui, Penanggung Jawab Ijtima Ulama IV Yusuf Muhammad Martak menyatakan khilafah adalah kesepakatan ulama.

“Bahwa sesungguhnya semua ulama ahlussunah waljamaah telah sepakat penerapan Syariah dan penegakan khilafah serta amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban agama Islam,” kata Martak di Hotel Lorin, Bogor, Jawa Barat, pada 5 Agustus 2019. 

Cari Perhatian

Dugaan lain pun muncul dalam benak Wasis. Ijtimak Ulama jilid IV dilakukan semata hanya untuk mencari perhatian publik. Padahal, menurut dia, dibalik agenda tersebut, benang merah yang paling menonjol ialah menyoal pada isu pemulangan Rizieq Shihab dari Arab Saudi ke Indonesia. 

“Mereka hanya ingin mendapat atensi saja dan pemulangan HRS (Habib Rizieq Shihab) tidak kunjung terealisasi. Maksud mereka menggemborkan khilafah itu lebih pada konsolidasi internal saja,” tutur dia.

Pria berusia 29 tahun itu memandang, telah terjadi inkonsistensi dalam ijtihad ini, karena lekat akan ekspresi emosi ketimbang ideologi.

Biar mereka masih diingat terus sebagai penantang Jokowi yang masih idealis.

“Ijtihad ini semakin lama juga makin mencari sensasi. Mereka hanya ingin memperlihatkan eksistensi saja, biar terlihat kuat meski ditinggal parpol kubu 02 dan HRS yang masih di Arab,” ujarnya.

Wasis menegaskan, tokoh agama Ijtima Ulama hanya berusaha untuk menyolidkan kembali massa mereka sendiri, untuk tetap konsisten pada prinsip pemulangan Rizieq Shihab. Selain itu, ada rasa gengsi untuk mengakui kemenangan Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019 kemarin.

“Diperhatikan biar mereka masih diingat terus sebagai penantang Jokowi yang masih idealis ketika kubu 02 sudah mulai pragmatis dengan kekuasaan,” jelas Wasis.[]

Oleh Morteza Syariati Albanna .

Catatan: Tulisan ini diambil dari tagar news

Related posts