21 Oktober 2019
INSAN PERS
Image default

Mempertimbangkan FPI

Oleh Khalilullah

Ketidakpulangan Habib Rizieq Shihab ke Indonesia menjadi pukulan yang keras terhadap pengikutnya atau kelompok Front Pembela Islam (FPI). Mereka terbelenggu dalam suasana yang mencekam dan keadaan yang dilematis: mempertahankan FPI atau membubarkannya.

Dilematis Pembubaran FPI

Masyarakat Indonesia berselisih pendapat. Ada yang setuju FPI dibubarkan dan ada pula yang menolak, bahkan mempertahankannya. Perselisihan ini sesungguhnya berangkat dari ideologi dan sikap FPI yang tergolong ekstrem, namun masih membenarkan NKRI. Bagi yang setuju—bila enggan berkata “ngotot”—membubarkan, disebutnya FPI tergolong ormas yang ekstrem dan kurang bersahabat dengan budaya Indonesia. Sementara, yang menolak pembubaran FPI berdalih ormas ini tidak menentang NKRI sebagai asas negara Indonesia.

Di tengah perselisihan yang tak kunjung berkesudahan, saya memilih FPI dibubarkan. Sikap saya sebenarnya melihat dari sisi positif dan sisi negatif yang dilakukan FPI terhadap perkembangan Islam secara umum dan perkembangan masyarakat secara khusus, namun lebih cenderung lebih banyak sisi negatifnya dibandingkan sisi positifnya. Dahulu FPI melarang penyanyi dangdut Inul Daratista manggung di wilayah Depok. (detiknews, 28/04/2006). Selain itu, ormas pimpinan Rizieq Shihab ini melaporkan Ahmad Dhani ke Polda Metro Jaya, karena Dewa, band Ahmad Dhani, dianggap telah menyalahgunakan simbol-simbol Islam lantaran memuat kaligrafi bertuliskan “Allah” di sampul album Laskar Cinta. (tirto.id, 29/01/2019).

Al-Qur’an Menentang Dakwah FPI

Beberapa sikap FPI tersebut menyalahi etika dakwah yang seharusnya disampaikan dengan sikap lemah lembut dan tutur kata yang santun. Dalam Al-Qur’an Allah Swt. menegaskan pentingnya dakwah yang lemah lembut: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Qs. Ali Imran/3, 159).

Kelemahlembutan dalam berdakwah searah dengan arti da’wah, yakni ajakan. Mengajak seseorang biasanya dilakukan dengan sikap yang lembut supaya ajakan itu dapat menyentuh hati orang yang diajak, sehingga dengannya, orang tersebut dapat mengabulkan ajakannya. Bayangkan saja seandainya ajakan itu disampaikan dengan paksaan dan sikap yang kurang menyenangkan, niscaya orang yang diajak akan menghindar, bahkan bisa menyulut api permusuhan.

Sikap ekstremis FPI dalam berdakwah sesungguhnya belum searah dengan pesan dakwah sehingga dampaknya terlihat fatal. Dakwahnya tidak disambut hangat oleh masyarakat Indonesia. Sikap dakwah FPI yang sangat fatal terlihat saat memanasnya Pilpres 2019 kemarin. FPI mendorong masyarakat melakukan people power. Karena itu, sikap FPI banyak merugikan masyarakat, seperti pecahnya persatuan, banyak korban berjatuhan, dan seterusnya. Beginilah yang disebut dakwah? Benarkan dakwah Nabi Muhammad Saw. seperti itu?

FPI Benih ISIS

Sisi lain, saya lihat ideologi FPI memang tidak dapat disamakan dengan ISIS. Kendati begitu, FPI dapat disebut sebagai benih yang dapat menumbuhkan bibit masyarakat masuk ke dalam kubangan ISIS. Hal ini bisa dilihat dari kesamaan yang dipegang oleh dua kelompok ini. Keduanya sama-sama menyuarakan Daulah Islamiyyah (Negara Islam), sekalipun cara pandang tentang negara Islam keduanya berbeda. Keduanya sama-sama bersikap ekstrem dalam berdakwah, bahkan keduanya gemar mengkafirkan dan menyesatkan kelompok yang berbeda pandangan. Begitu pula, keduanya sama-sama menentang pemerintah.

Bila FPI diyakini sebagai benih ISIS, maka langkah solutif untuk menjaga moderasi Islam dan tegaknya NKRI sepanjang masa adalah pembubaran FPI, karena pembubaran ini merupakan langkah terbaik untuk mengamputase virus FPI menyebar ke dalam tubuh masyarakat. Kendati ideologi FPI masih tetap melekat di benak pengikutnya, tentunya moderasi Islam tetap disampaikan kepada mereka, sehingga mereka membenarkannya dan meninggalkan ideologi ekstremis FPI.

Sebagai penutup tulisan ini, ada sebuah kata-kata Gus Dur untuk memperkuat pembubaran FPI di Indonesia. Saat ditanya: Membunuh tikus kan tidak harus membakar lumbungnya, Gus? Kata Gus Dur: Karena tikusnya sudah menguasi lumbung. FPI sudah menjadi lumbung yang dikuasi oleh kelompok ekstrem. Bubarkan. Tunggu apa lagi?[] Shallallah ala Muhammad.

Related posts