21 Oktober 2019
INSAN PERS
Image default

PERS INDONESIA DARI MISIONARIS HINGGA KORAN BERBAHASA BELANDA

Percetakan Misionaris

       Setelah gagal mencoba mendirikan percetakan misionaris yang pertama di Batavia pada 1624, komunitas gereja tidak lagi punya kesempatan mengoperasikan mesin percetakan hingga 119 tahun kemudian, ketika pada 1743 Seminarium Theologicum di Batavia memperoleh satu unit alat percetakan. Tidak banyak yang diketahui tentang nasib percetakan ini, tetapi ada laporan, percetakan itu pernah menertibkan perjanjian baru dan beberapa buku doa dalam terjemahan Melayu.[1]Hidupnya pun Cuma sebentar, sebab pada 1755 percetakan itu dipaksa bergabung dengan Percetakan Benteng.[2]Percetakan misionaris terhadap percetakan tentu jelas sekali. Percetakan penting dalam pekerjaan penginjilan, terutama untuk pmemublikasikan kepustakaan Kristen dan penerjemahan Injil serta katekisma-katekisma keagamaan. Percetakan juga merupakan aset yang berharga dalam upaya menyebabkan kemampuan membaca dan pendidikan gereja di kalangan anak-anak pribumi.
      Jumlah misionaris di Hindia berfluktuasi selama pemerintahan VOC,[3]tapi terus bertambah setelah 1800. Juga setelah VOC bubar, usaha percetakan yang digunakan kalangan misionaris kian bertambah.[4]Kegiatan misionaris semakin menonjol setelah tebentuknya Nederlandsch Zendelingen Genootschap[5]pada 1797 pada 1831, sebagian besar rintangan misionaris protestan dapat diatasi, yang berpuncak pada didirikannya sejumlah pos mini Protestan. Menjelang pertengahan abad ke-19, perhatian misionaris dibidang percetakan melebar ke penerbitan surat kabar dalam bahasa anak negeri.
Percetaka pertama milik misionaris adalah kepunyaan Joseph Kam, yang tiba dikepulauan Maluku pada 1813. Percetakan misi yang paling terkenal adalah percetakan seminari yang didirikan Walter Henry Medhurst. Sebagai misionaris yang tertarik pada dunia cetak-mencetak, Medhurst menerbitkan produk dalam bahasa Inggris, Belanda ,Cina, Jepang dan Melayu. Pada 1828 percetakan itu menggunakan litografi dan demikian produktifnya hingga antara 1823 dan 1842 telah menerbitkan total 189.294 cetakan dari berbagai karya. Penerbitan ini meliputi khotbah, bagian-bagian dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebuah kamus dan beberapa pamflet sekular dari berbagai jenis.[6]
      Percetakan misi lainnya yang juga aktif pada abad ke- 19 meliputi sejumlah percetakan yang terdapat di Ambon, Tohoman, Tondano,Kupang dan Banjarmasin. Lembaga misoinaris aktif mencetak buku-buku keagamaan dan kepustakaan gereja pada umumnya, dan baru pada paruh kedua abad ke-19 masuk ke dunia penertiban surat kabar. Mungkin itu disebabkan oleh ketatnya peraturan sensor untuk percetakan sebelum undang-undang percetakan direvisi pada 1856. Betapapun ,prioritas utama misionaris adalah menyebarkan penertiban keagamaan dan buku-buku pendidikan untuk sekolah misi mereka.[7]
  • Munculnya koran berbahasa Belanda

      Kuartal kedua abad ke-19 membuka sebuah babak baru persurat kabaran di Hindia Belanda. Periode ini ditandai dengan munculnya percetakan milik swasta dan tampilannya koran yang diusahakan oleh swasta. Pada 1825, Landsdrukkerij menertibkan Bataviaasch Advertentieblad di Batavia. Surat kabar lain berorientasi komersial, Nederlandsch Indisch Handelsbland, juga terbit di Batavia pada 1829. Tetapi, penerbit dan percetakannya tak diketahui, kendati bisa dipastikan surat kabar ini tidak dicetak di Percetakan Negara.[8] Di Surabaya muncul surat kabar pertama dalam bentuk mingguan, Soerabayasche Courant pada 1837, mungkin diterbitkan oleh C.F. Smith, yang sekitar 1834 membeli sebuah percetakan dari H.J. Domis, residen Semarang, Pasuruan dan Surabaya antara 1827 dan 1834, sebelum pensiun dan pulang ke Belanda. Pada 1845, di Semarang juga terbit mingguan media pengiklan dengan nama Semarangsch Advertentieblad,yang pada 1852 berganti menjadi De Locomotief. Semarangsch Advertentieblad ini menyaksikan terbitnya sebuah surat kabar lagi, Semarangsche Courant.
      Pada paruh kedua abad ke-19, Semarang menjadi pusat industri surat kabar yang penting, yang bersaing ketat dengan Surabaya dan Batavia dalam menerbitkan surat kabatr termuka berbahasa Belanda dan Melayu. Sebagai kota pelabuhan pusat lalu lintas pengapalan hasil pertanian, Batavia, Semarang dan Surabaya cenderung menarik saudagar dan pedagang berbagai bangsa. Mereka membutuhkan media pengiklanan, bukan hanya untuk memasarkan komoditas mereka tetapi juga mengetahui harga terakhir di pasar serta informasi mengenai kedatangan dan keberangkatan kapal dan benda pos. Demikianlah pertama kali muncul di kota-kota besar tersebut pada dasawarsa terakhir abad ke- 19 koran ( secara populer pada masa itu dikenal dengan surat kabar berita dan iklan itu). Sebelum 1856, tidak kurang dari 16 surat kabar, baik yang diterbitkan pemerintah maupun swasta mundul di Hindia Belanda.
      Semua surat kabar dan berkala yang terbit sebelum 1855 menggunakan bahasa Belanda. Tingginya tingkat buta huruf di kalangan pribumi menyebabkan penerbitan dalam bahasa anak negeri sulit dibayangkan pada periode ini. Walaupun penduduk muslim umumnya mengikuti pendidikan agama tradisional di pesantren dan langgar, kemampuan baca tulis di kalangan penduduk terbatas pada kemampuan membaca teks-teks Arab, yang lebih sering dikutip tanpa pemahaman. Meskipun orang Jawa mempunyai tradisi sastra, akses ke sana dimonopoli oleh lapisan atas masyarakat dan biasannya terbatas pada para penulis keraton. Upaya pertama memperkenalkan bentuk pendidikan Barat kepada penduduk pribumi dilakukan oleh para misionaris, didalam karya penginjilan mereka, dengan mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan membaca dan menulis dalam bahasa Arab Melayu dan Rumi. Hingga 1850, perhatian pemerintah terhadap pendidikan pribumi hanya terbatas pada pribumi Kristen di Maluku.[9]
      Sekolah pertama yang dikelola oleh lembaga gerejawi VOC kebanyakan didirikan di Ambon, dimana bahasa Belanda digantikan oleh bahasa Melayu sebagai alat pengajaran pada sekitar dasawarsa ketiga abad ke-18. Mecoloknya peningkatan bahasa Melayu sebagai lingua franca di Hindia Belanda membantu pertumbuhan dan perkembangan pers berbahasa Melayu pada paruh kedua abad ke-19. Karena itu, latar belakang sejarah perkembangan bahasa Melayu, seperti yang digunakan di sejumlah kota besar, dimana kegiatan cetak-mencetak sangat aktif, patut mendapat perhatian.[10]


[1] Chijs, J. A. Van der.1880.’ Proeve eener Nederlandsch Indische Biblographie (1659-1870);  Verhandelingen van      het Bataviaasch Genootscap van Kunsten en Wetenschappen. Jil. Ke- 39, 1 Batavia.hlm.7.
[2] Isa, Zubaidah. 1972. Printing and Publishing in Indonesia: 1602-1970. Indiana. ( Desertasi, Indiana University). hlm.22.
[3] Isa, Zubaidah.1972. Printing and Publishing in Indonesia: 1602-1970. Indiana. ( Desertasi, Indiana University). hlm.19.
[4] Isa, Zubaidah.1972. Printing and Publishing in Indonesia: 1602-1970. Indiana. ( Desertasi, Indiana University). hlm.19.
[5] Zwemer, S.M.1911. Islam and Christianity in Malaysia. The Modern Word.Jil. ke—1.hlm.243.
[6]Isa, Zubaidah. Isa, Zubaidah. 1972. Printing and Publishing in Indonesia: 1602-1970. Indiana. ( Desertasi, Indiana University). hlm.19.
[7] Ahmat B. Adam.2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (1855-1913).PT.Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Hlm.11.
[8] Chijs, J.A. van der. 1880.’ Proeve eener Nederlandsch Indische Biblographie (1659-1870); Verhandelingen van      het Bataviaasch Genootscap van Kunsten en Wetenschappen. Jil. Ke 39, 1 Batavia. hlm. 57-61
[9] Manual. 1918. A Manual of Nedherlands India ( Dutch East Indies). Naval Staff Intelligence Departement.hlm.139.
[10] Ahmat B. Adam.2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (1855-1913).PT.Pustaka Pelajar: Yogyakarta. hlm. 14.

Related posts