19 September 2019
INSAN PERS
Image default

PERS KLASIK DAN BAHASA MELAYU YANG RENDAH

Ragam bahasa Melayu percakapan tersebut adalah jenis yang sederhana, yang biasanya dikenal sebagai bahasa Melayu pasar atau Melayu rendah. Ragam bahasa Melayu inilah yang umumnya digunakan dalam pergaulan antara pribumi dan pendatang.[1] Di Batavia, ragam bahasa ini menjalani sejarahnya sendiri cukup dipengaruhi oleh kehadiran Portugis dan Belanda, varian ini kemudian disebut Melayu Betawi.[2]Banyak orang non-Melayu menggangap ragam Melayu Betawi paling mudah diterima karena kelenturannya dalam menyerap kata asing, bahkan dalam sintakis.[3]
 Di pulau-pulau luar Jawa, ragam Melayu rendah juga memiliki keunikan tersendiri. Di Minahasa ragam itu dinamakan Melayu Menado, sebuah varian yang berkembang sebagai akibat penggunannya di gereja dan sekolah-sekolah. Di kepulauan Maluku, bahasa Melayu menemukan bentuknya yang lain. Berkat pemakaiannya oleh para misionaris sebagai bahasa gereja dan pendidikan , bahasa ini diterima luas oleh masyarakat luas. Di Jawa, apa yang dikenal sebagai Melayu Betawi di kota-kota lain disebut juga Melayu rendah, atau bahasa Melayu adukan ( campuran ), Melayu kaun dan Melayu pasar. Ragam ini merupakan bahsa yang dipahamiu oleh orang kebanyakan dari berbagai suku disejumlah kota dan bandar perniagaan.
Belanda, karena dipaksa keadaan, sejak jaman VOC sudah menerima bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar tak resmi serta sebagai bahasa administrasi dan perdagangan. Meskipun demikian, tetap saja ada kontroversi mengenai ragam bahasa Melayu mana yang sebaiknya dianjukan dan dipopulerkan. Kontroversi ini berlanjut hingga pertengshsn abad ke-19. Meskipun para misionaris dan orang awam lebih akrab dengan apa yang disebut Melayu rendah, para penguasa administrasi tratif di Batavia, bahkan sejak jaman VOC, selalu menganjurkan bentuk bahasa Melayu yang lebih murni yaitu Melayu tinggi. Menjelang pertengahan abad ke-19, perkembangan dan pertumbuhannya lebih terpacu ketika koran dan terbitan berkala dalam bahasa Melayu rendah mulai bermunculan disejumlah kota dan kotapraja. Ragam ini bukan hanya dipakai orang pribumi, tapi juga oleh orang Tionghoa, Eropa (tulen atau Indo), Arab serta semua orang timur asing yang tinggal di Hindia dan bekerja di sektor perdagangan.[4]


[1] Crawfurd, John. 1852. A Grammar and Dictionary of the Malay Language with Preliminary Dissertation.2 Jil. London.hlm.10.
[2] Hoffman, John.1979. A Foreign Investment: Indies Malay to 1901, Indonesia no.27.hlm.68.
[3] Ahmat B. Adam. 2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (1855-1913).PT.Pustaka Pelajar: Yogyakarta.hlm. 14-15.
[4] Ahmat B. Adam..2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (1855-1913).PT.Pustaka Pelajar: Yogyakarta. hlm.16.

Related posts